Nusyuz

Menurut Dr. Abdul Mustaqim, ketika bicara tetang Nusyuz (pembangkangan istri terhadap suami), biasanya para mufassir klasik akan mengutip firman berikut :

kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (An Nisa:34).

Ayat tersebut sering kali ditafsirkan dan dijadikan legimitasi oleh kaum “laki-laki” untuk melakukan tindak kekerasan (violence) terhadap istri (perempuan) yang dianggap telah melakukan nusyuz. Di dalam kitab-kitab fiqih atau tafsir klasik, kata nusyuz sering dibawa pengertiannya pada istri yang tidak taat (membangkang) kepada suami. Tidak akan kita temui dalam kitab-kitab fiqh atau tafsir bahwa kata nusyuz merujuk kepada pengertian suami membangkang kepada istri, atau suami yang tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya terhadap istrinya.

Namun jika kita kritis mencermati Al-Qur’an, kita akan mendapati kata nusyuz ditujukan pula untuk laki-laki, sebagai mana ayat berikut :

dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak mengapa bagi keduanya Mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (an nisa: 128)

Dari ayat tersebut sebagaimana dalam tafsir Depag disebut bahwa Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.

Menurut Amina Wadud, karena Al-Qur’an menggunakan kata nusyuz baik untuk laki-laki maupun perempuan, maka ketika kata nusyuz disandingkan dengan perempuan (istri), ia tidak dapat diartikan dengan ketidak patuhan kepada suami (disobedience to the husband), melainkan lebih pada pengertian adanya gangguan keharmonisan dalam keluarga, yang solusinya telah ditawarkan oleh Al-Qur’an tersebut di atas. Penafsirannya tergantung pendekatan yang dipakai, apakah mau memakai teori Riffat Hasan, yang mencoba menawarkan kontruksi metode penafsiran baru yaitu metode historis-kritis-kontekstual atau metode-metode tafsir kontemporer lainnya.

Hal yang penting untuk dicatat, menurut Dr. Abdul Mustakim (Pergeseran Epistemologi Tafsir: 163), adalah bahwa kata dharaba mempunyai banyak arti di antaranya 1. “membuat” atau memberikan contoh; 2. Meninggalkan atau menghentikan suatu perjalanan; 3. Berpalinglah dan meninggalkan untuk pergi; makna yang lain adalah kata dharaba berarti mencegahnya untuk tidak memberikan hartanya kepadanya.

Dengan demikian untuk tafsir fadribuuhunna dapat dipilih arti sesuai dengan ideal moral atau meminjam istilah Soekarno dalam bukunya “Islam Sontoloyo” dengan istilah api Al-Qur’an /ethiek Al Qur’an yang sesuai jaman sekarang bukan pukullah mereka tetapi dengan cara-cara yang lain, misalnya diartikan “janganlah mereka dikasih nafkah atau biaya hidup untuk sementara”. Itu pun kalau yang membiayainya suami kalau si istri punya penghasilan sendiri, ya artikanlah dengan “berpalinglah kamu dan tinggalkanlah mereka”.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>