Dicari Pemimpin Yang Adil

Salam… mohon maaf nih baru muncul lagi, maklum sibuk ngurusin yang harus diurus… btw, rame-rame protes kepemimpinan SBY atau di sekolah, instansi juga pada sibuk ngurusin kepemimpinan. So, bagaimana idealnya seorang pemimpin dalam Islam, teorinya bagaimana sih.. nah berikut bahasannya… selamat menyimak… terutama mempraktekkannya.

Salah satu basic kekuatan Islam terdapat pada imamah, kepemimpinan. Hidup berjam’iyyah, berserikat bagi umat Islam merupakan conditio sine qua non, suatu yang wajib adanya. Rasul menyatakan, “Islam tidak akan tegak kecuali berjama’ah, jama’ah tidak ada apa-apanya kecuali ada kepemimpinan, dan apa gunanya pemimpin kalau tidak ditaati (Al Hadits). Dengan hidup berimamah seperti itu, umat Islam tidak pernah kehilangan pimpinan, bahkan setiap diri wajib siap siaga apabila ia dipinta untuk jadi pimpinan dengan segala konsekuensinya.

Pemimpin sangat berpengaruh bagi jalannya roda organisasi yang dia pimpin. Seorang pemimpin rakyat sangat berpengaruh bagi keadaan nasib orang banyak. Jangankan ucapan, isyaratnya pun dapat menciptakan kemakmuran atau bahkan penderitaan. Seorang pemimpin kelompok atau instansi ia bertanggung jawab atas maju mundurnya kelompok tersebut. Karena tugas beratnya itu pemimpin yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan adil mendapat anugrah yang luar biasa, yaitu kedudukan dan tempat yang tinggi di sisi Allah swt., sebaliknya bagi pemimpin yang lalim dia akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Rasulullah saw. mengatakan :

“Sesungguhnya orang yang paling dicintai dan dekat kedudukannya dengan Allah adalah pemimpin yang adil dan orang yang paling dibenci dan sangat keras siksaannya adalah pemimpin yang lalim. (HR. Tirmidzi).

Pemimpin yang zalim, tidak hanya merusak tatanan kehidupan ekonomi masyarakatnya, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu merusak tatanan kehidupan beragama. Rasulullah bersabda :

« آفة الدين ثلاثة : فقيه فاجر ، وإمام جائر ، ومجتهد جاهل »
Yang merusak agama itu ada tiga, yaitu : ahli fiqh yang durhaka, pemimpin yang lalim, dan mujtahid yang bodoh. (Ahbar Ashbahan, IX:498, no. 1953).

Tanggung jawab dunia akhirat telah menjadi beban berat yang harus dipikul oleh seorang pemimpin. Halangan dan rintangan siap menghadang. Godaan dan cobaan siap membujuk rayu mendayu deru. Betapa berat menjadi seorang pemimpin. Pantaslah bagi orang-orang yang saleh dan tahu akibat yang akan ditanggungnya, sebagaimana sahabat Abu Bakar dan Umar malah mengucapkan istirja ketika keduanya terpilih jadi khalifah. Mengapa? Karena konsekuensi logis akan didapati bagi pengemban amanah ini. Bagi pemimpin yang tidak adil akan mendapat funishment yang sangat berat, sebaliknya bagi yang berlaku adil dia akan mendapat reward yang sangat tinggi dan mulia.

Kepemimpinan merupakan amanat dari Allah swt., tidak semua orang dapat jadi pemimpin. Ini memang amanah dari Alloh, amanah harus dilaknakan dengan sungguh-sungguh. Pemimpin yang tidak adil adalah pemimpin yang khianat terhadap kepercayaan dari Allah swt. Rasulullah saw. bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Seseorang yang telah diberi amanah oleh Allah untuk mengurus urusan rakyatnya kemudian ia mati pada hari kematiannya sedangkan dia dalam keadaan menipu rakyatnya maka Allah haramkan surga baginya. (HR. Muslim).

Pemimpin yang tidak adil, pasti menyengsarakan rakyat yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, Rasulullah tidak suka terhadap mereka itu dan beliau mendoakan agar Allah membalas perbuatan mereka. Rasulullah saw. telah berdo’a :

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ ….
Ya Allah! Siapa saja orang yang mengurus urusan umatku kemudian ia menyulitkan mereka, maka berilah kesulitan baginya.

Sesungguhnya setiap orang bagaikan seorang pengembala yang berkewajiban memimpin dan membimbing gembalaannya, agar selamat, tidak kurang sesuatu pun. Setiap pribadi tidak lepas dari pertanggungjawaban atas segala yang dipimpinnya, terutama atas dirinya sendiri.
Berbicara tentang pemimpin, menurut E. Abdurrahman, maka dapat diuraikan mengenai dua macam pemimpin, yaitu :

  1. Pemimpin yang dinamakan “Al Imamul A’zam” atau khalifah, presiden, yakni imam atau pemimpin yang memimpin Negara, yang bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya itu.
  2. Pemimpin masing-masing golongan atau lingkungan yang merupakan kesatuan-kesatuan hidup dalam masyarakat. Seorang guru adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kemajuan dan kemunduran anak didiknya. Seorang ayah adalah pemimpin bagi kesejahteraan anak dan istrinya.

Sebagaimana telah di bahas, bahwasanya pemimpin merupakan penentu apakah organisasinya maju atau mundur. Lantas, pemimpin yang bagaimana yang baik itu? Dalam hal ini, Rasulullah saw. telah menyodorkan criteria pemimpin yang baik, yaitu : Sebaik-baik pemimpin kamu ialah orang yang kamu mencintai mereka dan mereka pun mencintai kamu, kamu mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kamu…(HR. Muslim).

Doa pemimpin yang saleh akan dikabulkan oleh Allah swt. Sebagaimana sabda Nabi saw. :
ثَلاَثٌ لاَ يُرَدُّ لَهُمْ دَعْوَةٌ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَإِمَامٌ عَادِلٌ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَوَاتِ ،..
Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya, yaitu orang yang puasa sehingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalim. Allah akan mengangkat doa itu ke atas dan dengan doa itu terbukalah pintu-pintu langit. (Musnad Ishaq ibn Rahawaih, I: 317, no 300).

Dalam hadits lain disebutkan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الإِمَامُ الْعَادِلُ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُ.
Dari Abu Hurairah ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw. “Pemimpin yang adil tidak akan ditolak doanya. (Mushannaf Ibn Abi Syaebah, XII: 220, no. 33225).

Pemimpin yang berhasil mensejahterakan yang dipimpinnya, adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Siang malam ia berdoa untuk kebaikan negeri dan penghuninya. Doanya terkabul karena ia senantiasa memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa, yaitu diantaranya senantiasa berusaha berlaku adil yang merupakan perwujudan dari sifat orang yang taqwa.

Begitu luar biasa pemimpin yang adil ini, sehingga Rasulullah saw. menyatakan bahwa ada tiga golongan yang tidak boleh tidak dipenuhi hak-haknya yaitu : pemimpin yang adil, pengajar kebaikan, dan pejuang Islam.
Kita berharap, di negeri ini muncul pemimpin-pemimpin yang adil, yang senantiasa peduli atas rakyatnya. Ya Rab, berilah kami pemimpin yang adil, yang dia mencintai kami dengan sepenuh hatinya….. Amien..

2 tanggapan untuk artikel “Dicari Pemimpin Yang Adil

  1. Intinya, kepemimpinan hrs sesuai dengan syari’at islam. Tp bagaimana penilaian pemimpin bangsa kita ?? Sudah sesuaikah dgn syari’at Islam ??
    Jika belum mengapa kita hanya diam tanpa melakukan apa2??
    Aksi yg nyata adl merubah pola kepemimpinan untuk diri kita sendiri. Apakah sudah benar kita dalam memimpin diri kita, keluarga, bangsa dan agama ..??

    wassalam ..

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>