Musibah Adalah Kehendak Allah

Dalam hadits Qudsi Alloh SWT. Berfirman : “Aku yang akan menggoncangkan bumi yang akan menimpa kepada hamba-hamba-Ku. Apabila ada orang di kalangan kaum mukminin ada yang terkena (meninggal) maka hal tersebut adalah rahmat baginya dan memang azal mereka telah ditentukan demikian, tetapi apabila yang terkena itu adalah orang-orang kafir maka hal tersebut merupakan azab bagi mereka dan memang akhir mereka telah ditentukan seperti itu” (Kanzul Ummal: I: 209).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa peristiwa tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang taqwa, rahmat bagi orang-orang beriman dan azab bagi orang-orang kafir (Kanzul Ummal: XI: 364).

Dunia adalah kehidupan yang penuh dengan cobaan, ujian, dan beban. Keadaan-keadaan sebagaimana digambarkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 155 yaitu manusia akan mengalami ketakutan,  kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Manusia manapun di dunia ini, penulis yakin akan mengalami setidaknya salah satu dari kelima alat cobaan di tersebut.

Peristiwa-peristiwa yang akan menimpa umat merupakan ketentuan Alloh swt. Namun yang berbeda adalah nilai bagi orang yang mengalami musibah tersebut. Dr. Adnan Syarif dalam bukunya Min ‘Ilm al-Nafs Al-Qur’any (Psikologi Qur’any) memaparkan delapan pengertian dari musibah, yaitu: bencana, ampunan, balasan, dan obat, sebagai akibat tindakan manusia sendiri, akibat kebodohannya, dan akibat orang lain, atau untuk kebaikannya.

Musibah sebagai mencana merupakan cobaan atau ujian atas keimanan dan kesabaran manusia. Melalui musibah, seorang mukmin yang benar dapat dibedakan dari mukmin yang palsu dan menipu, sebagaimana firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3).

Alloh Yang Maha Pengasih Penyayang akan selalu menguji orang mukmin yang benar agar diketahui sejauh mana kadar kemampuan dan kekuatan jiwa mereka. Melalui ujian yang menimpa mereka di dunia, Alloh mengampuni dosa-dosanya dan memberinya balasan yang baik pada hari perhitungan. Rasulullah SAW. pernah bersabda:

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة في نفسه وولده وماله حتى يلقى الله وما عليه خطيئة  (سنن الترمذي   : جزء 4 -  صفحة 602, ر2399) قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح

Ujian itu akan selalu menimpa laki-laki mukmin maupun perempuan mukmin, baik menimpa dirinya, anak-anaknya, dan hartanya sampai dia berjumpa dengan Alloh dan dia tidak lagi memiliki kesalahan. (HR. Tirmidzi).

Musibah tidak jarang merupakan balasan atas perbuatan-perbuatan yang tidak benar yang dilakukan oleh manusia atau komunitas dalam masyarakat. Dalam hal ini, Alloh tidak akan menunda-nunda azabnya dan tidak juga membiarkan para pelakunya. Orang zalim jelas harus mendapatkan balasan di dunia dan di akhirat atas segala perbuatan-Nya.

‘Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabut: 40).

Musibah kadang-kadang juga menjadi obat bagi seseorang agar ia kembali kepada jalan yang benar dan jalan keimanan, sebagaimana firman-Nya:

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (As Sajdah: 21)

Kebanyakan orang mengetahui, bahwa zina dan minuman keras adalah penyebab yang dapat mendekatkan para pelakunya pada 70 penyakit dan musibah yang acap kali menimpa mereka. Namun demikian, mereka tetap meminum minuman keras dan berzina dengan penuh kesadaran. Apa yang dilakukan dan dialami oleh mereka merupakan musibah yang disebabkan menuruti keinginan hawa nafsu.

Jenis musibah yang lainnya adalah musibah yang disebabkan oleh kebodohan dan musibah yang disebabkan oleh orang lain. Seseorang tertimpa musibah karena ketidaktahuan dan kelalaiannya. Ada juga musibah yang menimpa seseorang akibat kena fitnah atau kejahatan orang lain. Oleh sebab itu, Alloh telah mengajarkan kepada kita untuk mencegah bencana dan musibah yang dating dari orang lain sebagaimana firman-Nya dalam S. Al Falaq:

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya,. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Musibah tidak jarang pula mengandung kebaikan bagi manusia. Akan tetapi, karena manusia tidak memiliki pengetahuan mengenai hal-hal gaib dan apa yang akan terjadi pada dirinya pada masa mendatang, ia acapkali marah, berpaling dari kenyataan, dan kurang memahami maksud ujian. Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Seandainya kalian mengetahui hal-hal gaib, niscaya kalian akan menerima kenyataan” (Al-Hadits).

Demikianlah secara ringkas penulis kutip paparan Dr. Adnan Syarif, jika kita merenungkan dengan mata hati yang paling dalam dan mengintrospeksi diri “model apakah musibah yang menimpa kita?” Apakah musibah itu merupakan ujian/ cobaan atau suatu azab baik azab individual maupun masyarakat karena disebabkan dosa kolektif? Wallahu A’lam.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>