Perbedaan Ilmu Tafsir Dengan Hermeneutiks

Term ‘ilmu tafsir’ di kalangan bangsa kita tidak asing lagi karena Istilah itu telah diperkenalkan kepada mereka sejak islam mulai datang Ke bumi nusantara ini sekitar abad pertama dan kedua hijriah (abad VII-VIII M). Meskipun fakta ini masih memerlukan fakta lain yang Lebih signifikan, namun suatu hal yang tidak dapat di bantah dan dimungkiri ialah bahwa term ilmu tafsir telah sangat popular di Indonesia jauh sebelum munculnya istilah Hermeneutiks. Istilah yang Kedua ini baru agak terasa nuansanya pada dasawarsa terakhir ini, Terutama setalah para sarjana kita yang belajar di barat kembali ke Indonesia membawa berbagai konsep yang dianggap baru, termasuk di antaranya term hermeneutics ini.

Sebelum Schleiermacher memajukan konsep Hermeneutiks modern, para ulama tafsir telah menyusun teori ilmu tafsir untuk menafsirkan kitab suci Al Qur’an, secara rinci dan jelimet sekali bila dibandikangkan dengan teori atau kaidah yang dibahas dalam hermeneutics di barat itu. Dalam kaitan ini terdapat sejumlah perbedaan yang amat mendasar antara kedua istilah itu sebagaimana diuraikan berikut :

Pertama, Hermes dalam kajian hermeneutics digambarkan sebagai dewa penghubung (utusan) yang berwenang penuh dalam menyampaikan pesan yang dibawanya sesuai dengan bahasa yang dimengerti oleh umat yang akan menerima pesan tersebut. Karena itu dia diberi lisensi untuk melakukan interpretasi dan bahkan penyaduran pesan yang akan disampaikan selama hal itu sesuai dengan audien. Itu berarti sebagai rasul, Hermes memperoleh kewenangan penuh yang sangat luar biasa dari dewa yang mengutusnya; sehingga terkesan apa saja yang dikatakannya harus diyakini bahwa itu berasal dari dewa, dan semua pesan itu benar tanpa reserve. Kemudian keberhasilan Hermes ini, tergantung sejauh mana dia bisa mengomunikasikan pesan-pesan “langit” itu sesuai dengan bahasa umat yang menerimanya.

Tanpa berpikir panjang ,sepintas lalu saja tampak kepada kita suatu perbedaan yang sangat substansial antara dua konsep itu. Perbedaan tersebut tidak hanya sampai di situ, tapi berimplikasi pada tataran aplikatif.

Kewenangan penuh yang ada pada Hermes itu, dapat membuat risalah yang diembannya lepas dari control dewa yang mengirimkannya. Jika itu terjadi, maka pesan yang disampaikannya merupakan hasil rekayasanya secara pribadi; dus berarti risalah yang dibawanya tidak orisinal dari dewa yang mengirimkannya, tapi dapat berupa saduran atau tafsirannya menurut versi Hermes.

Kedua, Dalam proses penafsiran, hermeneutics tidak mementingkan urutan prosedural yang akan diterapkan sebagai ditegaskan oleh Schleiermacher: “kitab suci tidak membutuhkan tipe khusus prosedur penafsirannya. Betapa pun, permasalahan yang mendasar dalam memahami suatu teks adalah mengembangkan gramatika dasar dan kondisi psikologis” (Mircea Eliade (ed.), encyclopedia of Religion, hal. 281).

Berbeda dengan teori ilmu tafsir; di mana langkah-langkah prosedural dalam proses penafsiran Al qur’an amat dibutuhkan. (lihat syarat-syarat mufassir dan kaidah-kaidah penafsiran).

Ketiga, Ruang lingkup kajian hermeneutics berkisar pada tiga elemen pokok yakni teks, interpreter, dan audien (konteks, dan sebagainya) atau apa yang diistilahkan dengan triadic structure. Itu berarti, teori hermeneutics sangat simpel dan umum, tidak memberikan penjelasan yang rinci untuk membimbing para mufassir menemukan sebuah penafsiran yang benar dan representatif. Teori hermeneutiks baru sampai pada tingkat “asbabun nuzul “ saja. Dengan demikian, teori hermeneutiks an sich tentunya tidak cukup untuk menafsirkan sebuah atau sepotong ayat sekalipun. Dalam konteks inilah Ali bin Abi Thalib memarahi seseorang yang menafsirkan Al qur’an tanpa menguasai teori nasikh-mansukh.

Keempat, dalam teori hermeneutiks terkesan bahwa seseorang hermeneut dapat menafsirkan semua teks tanpa kecuali selama dia dapat menguasai ketiga unsur utama tersebut secara baik; bahkan digambarkan penguasaannya terhadap ketiga unsur itu termasuk terhadap diri si pengarang teks (author) jauh melebihi pengarang mengenal dirinya sendiri. (Eliade, ibid).

Konsep serupa itu bukanlah suatu yang aneh. Karena para tokoh hermeneutiks seperti Schleiermacher, Dilthey, Gadamer, dan lain-lain memandang agama sebagai kumpulan interpretasi. Oleh karenanya studi ilmiah terhadapnya mengambil bentuk interpretasi dari interpretasi. (Eliade, hal. 285).

(pembahasan yang lebih lengkap lihat Prof. Dr. Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, hal. 71-91; Richard E. Palmer, Hermeneutics : Interpretation theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer).
Dan yang paling aneh adalah para pengusung tafsir kontemporer seolah-olah lebih tahu maksud teks suatu ayat daripada Nabi, Sahabat, Tabi’in, bahkan Alloh SWT.

Kalau dihubungkan dengan relativitas suatu penafsiran, kira-kira mana yang lebih relatif; apakah teori hermeneutiks atau tafsir-tafsir para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para mufassir yang sudah tidak diragukan lagi otoritas mereka dalam bidang tafsir.

Sekali lagi, betul yang Mutlak hanyalah Alloh SWT. , tetapi ini masalah kepercayaan terhadap suatu otoritas keilmuan dengan –tentunya- tidak menutup pintu ijtihad.

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>