Peringatan Untuk Para Pendusta

Dusta merupakan “ruh” dari dzalim. Dusta merupakan kebalikan dari “As Shidqu” (jujur). Dengan dusta orang bisa mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. Dengan dusta dapat menyebabkan yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar, penjahat bisa jadi pahlawan dan pahlawan bisa jadi pengkhianat. Pada dasarnya dusta merupakan malapetaka bagi kehidupan manusia.

Menurut Majdi Assayid (1989: 21), dusta menyebabkan menusia menjadi sial dan naas, serta memancing murka dan laknat Allah SWT. Dan itu jelas merupakan bencana bagi manusia meskipun bencana itu datang pada waktu kemudian. Seseorang yang berdusta sebenarnya karena terdorong oleh kerendahan dirinya. Kalau ia berjiwa mulia maka dia tidak akan berdusta.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah Tidak Akan Berkata-kata Kepada Tiga Golongan Manusia pada Hari Kiamat, tidak membersihkan mereka dari dosa dan mereka akan diazab dengan azab siksa yang pedih. Mereka itu ialah seseorang yang mempunyai kelebihan air di Padang Sahara tetapi dia enggan memberikan air tersebut kepada musafir yang memerlukan.

Seseorang yang menjual barang dagangan selepas waktu asar dan dia bersumpah dengan nama Allah yaitu sumpah bohong bahwa dia membeli barang tersebut dengan harga sekian-sekian menyebabkan pembeli mempercayainya sedangkan dia membelinya bukan dengan harga tersebut. Seseorang yang berikrar setia kepada seorang pemimpin karena tujuan keduniaan, sekiranya pemimpin berkenaan memenuhi permintaannya dia tetap setia dan jika tidak dia berpaling (HR. Sab’ah).

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam r.a katanya: Dari Nabi s.a.w, beliau bersabda: Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Sekiranya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang dijual belikan, mereka akan mendapat berkat dalam jual beli mereka. Sekiranya mereka menipu dan merahsiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang dijual belikan akan terhapus keberkatannya (HR. Jama’ah).

عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّه عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari Abu Wail dari Abdullah r.a.dari Nabi saw. katanya : “Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing orang untuk berbuat baik dan kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Sesungguhnya seorang yang membiasakan kejujuran sehingga ia dicatat (di sisi Allah) sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkan jalan ke neraka. Seseorang yang membiasakan diri untuk berbohong sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai tukang bohong. (Bukhori).

Berdusta itu disebut biang laknat karena berdusta itu akan menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. :

Ancaman Allah bagi pendusta di antaranya dalam firman-Nya :

Artinya, “Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta (Q.S. Ali Imron (3) : 61). Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta (Q.S. Adz-Dzariyah : 10). Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. (Q.S. 24: 7).

Tinggalkan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>