Hari dimana terasa baik-baik saja, hingga ketenangan yang kini sedang kulewati runtuh seketika—ketika Kshaya datang mengarah kepadaku tanpa aba-aba. Rasanya seperti tak pernah benar-benar bergerak. Aku tidak marah—hanya kosong. Menatap pada hasil kerja kerasku lama, seolah jejak usahaku yang berserakan sengaja mengejekku—sebuah perolehan yang sulit kuterima.
Tawa hambar memecah kesunyian, ucapku pada diri sendiri “pada akhirnya apa yang dulu kutakuti kini benar-benar menimpaku. ”
Namun jauh di dalam benakku, terselip bisikan perihal akan “trepidation” sebuah ketakutan akan sesuatu yang belum terjadi. Mungkin ini bukan sekedar ketakutan, melainkan kegelisahan yang tumbuh dan membingungkanku.
Langit perlahan berubah
rona, dari biru muda menjadi rona kelam sunya. Langit yang luas saja bisa merasakan sedih dengan menjatuhkan butir-butir hujan pada bumi, apalagi kita hanya—jiwa kecil yang terasa jauh dari langit menapun, seolah tak pernah menjadi bagian dari mereka.
“Seandainya” kata yang sering kali terucap tanpa kusadari. Perlahan aku menyadari—aku terlalu terpaku pada hasil akhir hingga melupakan “apakah aku benar-benar memahami proses itu atau sekedar menginginkan hasilnya saja?”
Di titik itu, aku mulai mempelajari tentang kewajiban yang menjadi kunci untuk mengenali tanggung jawab yang kupegang agar langkahku tak melesat dari usaha hanya demi “hasil akhir”. Dari Kiara—aku memahami arti ketulusan dalam menjalaninya.
Mengalami kegagalan adalah sesuatu yang—luka yang menyakitkan, sedikit demi sedikit aku belajar bangkit kembali ke arah yang baru dengan melepaskan kata Lengkara. Tanpa terburu-buru, tak lagi berlari karena takut tertinggal. Aku memiliki Kiara dalam menghadapinya.
Kini aku paham, ternyata ini adalah bagian dari—siklus yang sering dialami setiap manusia, siklus berulang jatuh dan bangkit kembali. Dan dari sinilah aku belajar menjadi lebih kuat, jujur pada diri sendiri.
“Aku belum sepenuhnya bangkit, tapi setidaknya aku telah melepaskan moha—penyangkalan yang dulu mengikatku.”








