Merawat Budaya Literasi Ala MA Alhuda Pameungpeuk, 15 Buku Karya Siswa Terbit dari 2023-2026

oleh -28 Dilihat
oleh
banner 468x60

Bandung, maalhuda70.sch.id — Di tengah kekhawatiran menurunnya minat baca dan menulis di kalangan generasi muda, Madrasah Aliyah (MA) Al-Huda Pameungpeuk Kabupaten Bandung justru menunjukkan cerita yang berbeda.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sejak 2023 hingga 2026, belasan siswa berhasil menerbitkan buku karya mereka sendiri dengan tema yang beragam, mulai dari refleksi kehidupan, kesehatan mental, percintaan remaja, toleransi sosial, hingga novel fantasi yang kompleks.

banner 336x280

Fenomena ini menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya melahirkan generasi yang unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, daya pikir kritis, dan budaya literasi.

Perjalanan tersebut dimulai pada tahun 2023 melalui dua karya perdana yang menjadi tonggak lahirnya gerakan literasi siswa di MA Al-Huda. Rahma Al Kautsara menerbitkan buku “Semua Tentang Pengharapan”, sebuah karya yang mengajak pembaca untuk tetap optimis menghadapi berbagai fase kehidupan. Pada tahun yang sama, Thira Nuaimah Ramadhani menghadirkan novel “Zero O’Clock”, karya fiksi yang menunjukkan kemampuan siswa madrasah dalam membangun cerita panjang dengan karakter dan konflik yang kuat.

Memasuki tahun 2024, semangat menulis mulai berkembang lebih luas. Sejumlah siswa menghadirkan karya-karya yang sarat refleksi dan pencarian makna hidup. Anggun Virlawati menerbitkan “Refleksi dalam Krisis”, sementara Carisa Adinda Puteri menulis “The Gifted: What’s On Her Mind?” yang mengangkat dinamika pikiran dan kehidupan remaja. Khahira Agnia Annajwa menghadirkan “Titik Penyelesaian”, Nazma Annetasya Azkia menerbitkan “Coretan Tinta”, dan Norma Septiani menulis “Meaningful Life: Menemukan Makna Kehidupan” yang mengajak pembaca merenungi arti hidup di tengah berbagai tantangan zaman.

Gelombang literasi berikutnya hadir pada akhir 2024 hingga awal 2025 dengan tema yang semakin beragam dan dekat dengan realitas generasi muda. Annisa Nur Febrianti mengangkat isu hubungan tidak sehat melalui buku “Toxic Relationship”, yang mengajak pembaca memahami pentingnya menjaga kesehatan emosional dan membangun relasi yang sehat.

Chairul Ismet menghadirkan karya yang lebih reflektif melalui “Ar-Rasikhuna Fil Ilmi”, sebuah buku yang mengupas makna menjadi pelajar yang mendalam ilmunya sekaligus menyoroti tantangan krisis identitas yang sering dialami generasi muda. Sementara itu, Febby Haedi Utami menulis “Ruang Rindu”, sebuah karya yang menggambarkan dinamika cinta dan perasaan remaja dengan bahasa yang dekat dengan keseharian pembacanya.

Tema sosial juga mendapat perhatian melalui buku “Perbedaan yang Menyatukan Kita” karya Husaina Maryam. Buku tersebut mengajak pembaca melihat perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis. Shahnaz Aulia kemudian menghadirkan “Ada Masanya”, sebuah karya yang mengingatkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki waktu dan pelajarannya masing-masing. Sedangkan Widia Sulistyawati menulis “My Heart Always Choose You”, kisah tentang ketegaran menghadapi cinta yang tak berbalas.

Perkembangan yang paling menarik terlihat pada tahun 2026. Karya siswa tidak lagi hanya berbicara tentang pengalaman pribadi, tetapi mulai memasuki wilayah eksplorasi sastra yang lebih kompleks. Nazma kembali menerbitkan buku berupa novel fantasi “The Beauty of Imagination (TBOI)”, sebuah cerita unik tentang tokoh-tokoh yang menyadari bahwa mereka hanyalah karakter dalam sebuah buku. Novel ini menghadirkan dunia imajinasi yang luas dengan berbagai karakter dan semesta cerita yang saling terhubung, menunjukkan keberanian penulis muda dalam mengeksplorasi konsep metafiksi yang jarang ditulis oleh remaja seusianya.

Pada tahun yang sama, Akya Rajwa Narissa menghadirkan novel “Yang Datang Setelah Gelap”, kisah tentang perjuangan seorang remaja menghadapi fitnah, tekanan sosial, dan pencarian jati diri. Novel tersebut menggambarkan bahwa harapan selalu dapat ditemukan setelah masa-masa paling sulit dalam kehidupan.

Rangkaian karya tersebut menunjukkan perjalanan yang menarik. Jika pada awalnya siswa banyak menulis tentang pengalaman dan refleksi pribadi, maka seiring waktu tema-tema yang diangkat semakin luas, mulai dari kesehatan mental, relasi sosial, identitas pelajar, keberagaman, hingga pembangunan dunia fiksi yang kompleks dan imajinatif.

Kepala MA Al-Huda Pameungpeuk, Dr. H. Deni Sholehudin, M.S.I., menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi para siswa yang terus menghasilkan karya dari tahun ke tahun.

“Kami meyakini bahwa setiap anak memiliki cerita, gagasan, dan potensi yang layak untuk didengar. Buku-buku yang lahir dari tangan para siswa ini bukan sekadar hasil tugas atau proyek sesaat, melainkan bukti bahwa budaya literasi dapat tumbuh kuat di lingkungan madrasah. Kami berharap karya-karya ini menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk berani berpikir, berani menulis, dan berani berkarya.” ungkapnya, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, penerbitan buku oleh siswa merupakan bagian dari upaya madrasah untuk membangun generasi yang tidak hanya mampu mengonsumsi informasi, tetapi juga mampu menciptakan pengetahuan dan menyebarkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan sedikitnya 15 buku yang berhasil diterbitkan sepanjang 2023 hingga 2026, MA Al-Huda Pameungpeuk telah menorehkan jejak literasi yang patut diapresiasi. Dari kisah tentang pengharapan, pencarian makna hidup, dinamika cinta remaja, hingga petualangan dalam dunia imajinasi, karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat lahir dari ruang kelas sederhana, selama ada keberanian untuk menulis dan kemauan untuk terus belajar. []

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.