Seorang pemuda yang indah suaranya nan hidup ucapannya, ia begitu dicintai dan disukai dengan penuh kasih. Banyak orang yang terkesima olehnya, mungkin juga langit akan senantiasa cerah begitu ia berjalan mengarungi dunia. Pemuda itu bernama Rigel. Ia begitu terkenal, merdu suaranya dan bersuka cita riaknya. Kemana pun ia pergi dan singgah, selalu di temani akan keberuntungan. Tangannya selalu percaya diri dan terangkat, matanya berbinar dan terang keberadaannya bak nabi yang baru saja turun ke bumi.
Ia memiliki teman setianya yang justru kebalikan darinya. Ia tidak terang sepertinya, indah dan terpana sepertinya, Ia seperti malam hari, malam yang tenang namun menghanyutkan jiwa. Ia bernama Chandra. Meski ia seperti malam namun ia sangat setia menemani Rigel kemana pun ia pergi bahkan ia satu pekerjaan dengan Rigel. Meski Chandra selalu menghakiminya, menyalahkannya juga berlawan pendapat dengan Rigel, namun ia selalu saja tertawa akan semua ucapan Chandra dan menganggapnya bahwa Chandra terlalu serius juga hanya bersenda gurau.
Suatu hari di suatu kantor ada sebuah pesta perayaan akan kesuksesan mereka dalam meraih target penjualan mereka. Para pengusaha dan pekerja di sana termasuk Rigel dan Chandra merayakan keberhasilan itu. Mereka tertawa dengan suka cita, berdansa juga minum-minuman bersama. Rigel tiba-tiba naik ke atas meja dan berteriak “Ayo semuanya kita tertawa hari ini demi kebaikan kita semua! Dan esok kita bisa tenang dan semua akan baik-baik saja!” Rigel mengambil gelas berisi minuman dan mengangkat tangannya dan berteriak “Ayo Bersulang!” Semua orang ikut mengangkat tangan mereka dan bersulang, kecuali Chandra yang diam saja di pojokkan dan sedikit-sedikit meminum minuman yang terasa sangat manis dan ia tidak terlalu menyukainya. Chandra yang diam tiba-tiba berbicara lantang sambil menatap Rigel tajam “Jangan terlalu percaya diri dulu Rigel. Aku tidak yakin semuanya akan baik-baik saja” Selepas ucapan itu keluar, semua orang menatap Chandra dengan wajah yang terlihat tidak senang bahkan kepala direktur sekalipun.
Rigel tertawa lepas kemudian meminum minuman dari gelas ditangannya dan turun dari meja tersebut, Ia merangkul Chandra lalu kembali menenangkan situasi “Ayolah kawan! Jangan pesimis melulu, kita harus yakin selalu” Perkataan itu manis dan mampu menggoyahkan situasi, memang benar adanya. Namun Chandra tidak tergerak sama sekali justru ia lebih yakin bahwa semua tidak akan baik-baik saja. Chandra hanya diam tak bergeming, serasa ada yang menghalanginya untuk berbicara dan Rigel kembali ke keramaian lau menyorakkan “Ayo!! Siapa yang mau berdansa!!” Ia kembali menghangatkan ruangannya.
Pesta perayaan pun akhirnya usai dan semua orang di sana ikut membereskan kekacauan, kecuali Chandra yang memutuskan untuk sesegera mungkin keluar dari kantor itu. Wajahnya muram, merasa mual dan bajunya yang berantakan. Ketika ia hendak membuka pintu kantor, Rigel menahannya dengan menarik jasnya. Chandra bertanya ada apa, dan Rigel tertawa dan mempertanyakan mengapa ia buru-buru sekali.
“Aku tidak mau ketinggalan jadwal kereta” Itu hanya sebuah alasan belaka untuk keluar dari ruangan ini.
“Ayolah kita mengobrol sebentar” Dengan senyuman manis andalannya sehingga Chandra hanya mengangguk dan tidak jadi membuka pintu depan kantor.
Rigel bercerita tentang kehidupannya yang sangat panjang mungkin saja ia menceritakan setiap detailnya yang sebenarnya tidak terlalu penting di dengarkan, namun Chandra memilih diam bertopang dagu dan mendengarkan semua ocehan Rigel. Akhirnya Chandra keluar dari kantor tersebut tetapi ia pulang bersama Rigel, yang juga masih bercerita sepanjang jalan. Langit telah menjelang malam namun ia seolah melihat matahari disamping yang sedang bercerita berbagai hal di siang hari. Chandra akhirnya berkomentar pada semua cerita indah dan sangat mengharukan milik Rigel dengan mengatakan sesimpel kata “Kamu sangat baik ya” dan seperti biasa Rigel menjawab dengan tawaan suka cita dan komentar sangat memotivasi orang pada umumnya.
Rigel bercerita dan mulai bertanya mengapa barusan Chandra mengatakan tidak akan baik-baik saja. Tapi Chandra justru diam dan membual, ia tahu apa kebenarannya namun ia lebih memilih diam hanya demi Rigel tetap bersinar tak tenggelam. “Tidak apa, aku hanya tengah memikirkan bahwa esok kupon diskon ku akan kadaluwarsa” Rigel tertawa mendengar itu dan mengatakan bahwa Chandra terlalu membawa itu kedalam hati. Mereka pun sampai di stasiun kereta dan berpisah di sana karena mereka berbeda jalur kereta. Rigel tersenyum dan melambaikan tangannya.
Di dalam kereta Chandra membuka gawai miliknya dan melihat-lihat situs lapangan kerja terbaru, ia tak lama ini selalu memikirkan untuk pindah pekerjaan dan juga sebagai pengganti jika pekerjaan sebagai karyawan perusahaan akan berakhir tak lama lagi, karena ia tahu bahwa perusahaan saat ini tidak baik-baik saja.
Keesokan harinya langit kembali cerah dan mereka berdua memulai harinya seperti biasa. Sarapan dengan sepotong roti di olesi selai diatasnya, dan secangkir kopi untuk menemani pagi hari yang indah. Mereka berdua memakai jas mereka dan berjalan untuk pergi bekerja.
Di kantor, Chandra bekerja seperti biasanya tetapi ada sedikit perubahan jam kerja karena demi memenuhi kehidupannya ia memutuskan mengambil lembur. Sedangkan Rigel yang tampak menyukai pekerjaannya bekerja seperti biasanya dan menjadi penyemangat semua orang dengan kehadirannya. Semua nampak biasa saja dan tidak ada salah sama sekali. Tapi tidak untuk Chandra. Ia harus bekerja sangat keras hanya demi tidak berganti pekerjaan, bukan karena ia menyukai pekerjaannya, tetapi ia tidak tahu kemana lagi ia akan bekerja. Disisi lain Rigel tampak tidak memikirkan apapun bahkan ia tak peduli akan dibayar berapa oleh perusahaan, ini semua seperti hobinya.
Semua pekerjaan hari ini selesai, Rigel dan teman-teman kantornya merencanakan makan bersama di sebuah restoran Italia. Sedangkan Chandra tetap diam bekerja lembur di kantor. Mereka bersuka riang di restoran, lampu yang terang, wangi makanan yang menggoda dan musik berlalu lalang dari speaker restoran yang memutar lagu jazz. Penuh senyuman seolah malam belum datang juga karena matahari ada diantara mereka. Pelayan datang membawa semua pesanan mereka, ketika makanan sudah ada di meja mereka pun mengangkat gelas minuman mereka dan bersulang. Rigel pasti akan menjadi orang yang paling berenergi diantara semua orang. “Ayo semuanya kita makan-makanan mewah khas Eropa ini!” Makanan terlihat sangat menggugah selera dan mahal, siapa pun pasti ingin mencicipi semua makanan yang ada di meja.
Disisi lain Chandra yang baru saja selesai bekerja, mengunci kantor dan hendak pulang. Ia singgah sebentar ke minimarket hanya untuk membeli roti dan satu botol teh dingin. Chandra begitu menyukai momen kecil, momen kesendirian ini. Ia sangat menghargai setiap momen meskipun menyakitkan sekalipun. Ia merasa bisa sangat bersyukur atas apa yang ia makan di waktu-waktu seperti ini.
Esok hari dan seterusnya berjalan seperti biasa. Rigel yang selalu penuh akan kehangatan dari kebersamaan dan kenyamanan dalam hidup bak siang terasa abadi. Lalu ada Chandra yang selalu mengambil lembur dan diam-diam mencari pekerjaan baru demi kelangsungan hidupnya. Chandra selalu hidup dalam penuh hemat, karena kondisi finansial nya yang membuatnya tidak bisa sembarangan mengeluarkan uang sepeserpun.
Hari ini Rigel membawa speaker untuk memutar lagu di kantor, hanya untuk sekadar menyemangati seluruh pekerja dengan alunan musik. Rigel memutar lagu yang tenang dan sangat cocok untuk situasi kerja bahkan sampai kepala direktur pun tidak keberatan. Rigel seperti biasa membuat kopi untuk beberapa orang sembari melanjutkan pekerjaannya dengan penuh suka cita. Rigel menghampiri Chandra dan bertanya “Hey kawan, kenapa kamu selalu mengambil lembur?” Chandra menoleh ke Rigel dan tersenyum kecil. “Aku sangat butuh uang demi makan setiap hari juga untuk menghidupi istri dan anak tercintaku. Hidupku penuh dengan hal tak terduga, oleh karena itu aku harus terus berusaha” Ucap Chandra dengan perasaan sukar. Rigel mengusap punggung Chandra dan menyemangatinya.
“Kamu sangat bertanggung jawab ya. Aku suka kepribadian itu. Pokoknya aku akan dukung kamu selalu” Ucapan yang manis bahkan Chandra merasa tergerak. Rigel berdiri dan pergi ke ruang dapur lalu membuatkan kopi khusus Chandra yang selalu tak memakai gula, ia kembali dengan secangkir kopi ditangannya. “Nih kawan, untukmu” Chandra mengambil cangkir dari tangan Rigel “Terima kasih, kamu masih ingat favoritku” Ia meletakkannya di meja dekat papan tik dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hari per hari di penuhi kehangatan dalam kehidupan Rigel bersama kawan-kawan kerjanya. Rigel selalu mentraktir makan dan minum selalu, dan tak bosan-bosan ia pergi ke restoran yang sama. Baginya perusahaan ini adalah panggung baginya dan ia selalu bersinar di panggung itu.
Hari ini tampak biasa saja dan seperti biasanya tak ada kendala dan sebagainya. Namun Chandra semakin pesimis karena Ia melihat perkembangan perusahaan semakin anjlok, ia sangat takut akan kehilangan pekerjaan akhirnya pun ia sesegera mungkin mencari yang baru. Rigel yang masih menyemangati semua dan tersenyum tidak mempedulikan apapun dan bekerja seperti biasa meski jam kerja makin hari makin bertambah. Chandra sekarang pulang lebih awal karena ia baru saja menemukan lapangan terbaru, sesegera mungkin ia mempersiapkan diri untuk mengumpulkan data miliknya ke lapangan terbarunya. Namun Rigel masih bertahan di panggungnya karena perusahaan dan pekerjaan adalah bagaimana ia bisa terus hidup.
Esok harinya penjualan perusahaan semakin turun dan kepala direktur sudah mulai pesimis akan kemajuannya. Disini Rigel ingin mempertahankan rumahnya, panggungnya dari kehancuran. Ia memotivasi seluruh pekerja dengan menaiki meja dan berteriak “Ayo semuanya! Ini hanyalah sebuah ujian berat bagi kita! Aku yakin kita semua pasti akan bisa melewatinya!” Hanya beberapa orang yang tergerak lalu ikut bersorak juga. Namun disisi lain Chandra yang izin sakit, yang pada kenyataannya ia pura-pura izin karena harus ada interview pekerja baru. Rigel terus saja menyemangati karena ia takut semuanya akan hancur begitu saja.
Hari yang paling ditakutkan Rigel akhirnya pun datang. Kepala direktur memutuskan untuk menutup kantor juga perusahaannya, dikarenakan penjualan semakin menurun dan tidak lagi yang bisa dilakukan selain menutup usaha tersebut. Rigel merasa sakit hati bak kehilangan rumah singgah, ia mencoba untuk mempertahankannya sekeras mungkin “Pak! Kenapa engkau menyerah begitu saja! Jika masih ada peluang, masih ada harapan” Ucap Rigel tergesa-gesa dengan tangannya yang tremor.
“Harapan apa? Jelas-jelas kita sudah sangat terpuruk! Percuma kita bekerja keras, jika penghasilan kita tidak ada bedanya dengan bekal anak-anak sekolah” Ucap Kepala Direktur merasa muak akan ucapan manis dari Rigel yang biasanya selalu berhasil, tapi kali ini tidak sama sekali. Bahkan tidak ada yang tergerak.
Rigel hanya diam merasa bahwa semuanya telah hancur. Kepala direktur dan pekerja lain mengemas barang mereka, mematikan semua monitor dan mematikan seluruh lampu kantor. Kini kantor terasa sangat dingin bak malam telah tiba. Semua pekerja termasuk Rigel keluar dari kantor dengan perasaan sedih. Kepala direktur menepuk pundak Rigel dan mengusapnya lembut, sangat lembut rasanya, bak usapan dari ayah tercinta. “Terima kasih atas kerja keras mu, Rigel. Kamu adalah karyawan terbaikku, termasuk si Chandra yang tidak hadir disini. Ia begitu keras mempertahankan perusahaan mungkin sepertinya ia telah menyerah” Rigel hanya diam dan menatap Kepala direktur. Tak bergeming.
Disisi lain Chandra sudah mendapatkan pekerjaan baru dan kehidupan baru, bahkan ia mendapatkan gaji yang lebih besar dari sebelumnya. Kini Chandra akhirnya bisa tersenyum dan bersuka cita saat bekerja. Penuh semangat, karena ia tahu nasibnya di masa depan akan berubah drastis.
Di stasiun kereta yang sepi, stasiun dimana Rigel dan Chandra selalu berpisah untuk pulang. Kali ini Rigel terduduk sendiri dengan wajah pucat. Rigel tidak memikirkan akan apa selanjutnya ia lakukan, ia hanya memikirkan momen hangat di masa lalu yang tidak mungkin bisa terulang lagi, karena semuanya telah runtuh. Ia kehilangan panggungnya, rumahnya dan kehidupannya. Kini Sang penyair yang terang bak mentari, telah tenggelam dan menjadi malam. Rigel tidak bisa hidup di malam hari, karena semasa hidupnya ia hidup di siang hari yang serasa abadi.
Beberapa bulan kemudian, Chandra disisi lain yang dingin bak malam hari telah terbit menjadi siang hari. Hari ini sepulang kerja ia makan bersama di sebuah restoran Itali, sebuah restoran yang selalu Rigel singgahi, namun dengan rekan kerja yang berbeda. Ia baru saja merasakan kehangatan siang hari, dan ia begitu bahagia di sana. Namun di tengah kebahagiaan, Chandra ingat akan temannya yang hangat dan terang bak mentarinya, yaitu Rigel. Ia izin untuk pulang terlebih dahulu karena ia ingin bertemu teman lamanya yang selalu ia temani setiap saat. Chandra berjalan menuju stasiun dan menaiki jalur tempat dimana perusahaan lama berada.
Chandra pun sampai dan terkejutnya dia melihat Rigel yang masih duduk di kursi stasiun. Wajahnya pucat, air mata yang berlinang dan janggutnya yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Ia berjalan mendekati Rigel dengan perasaan kasihan juga masih terkejut akan keadaannya “Apakah itu kamu? Rigel?” Rigel mengangkat kepalanya dan menatap mata Chandra. Saat kembali melihat teman terdekatnya ia tersenyum kembali. “Hai kawan, mari sini duduk di sampingku” Tanpa pikir panjang Chandra pun duduk disampingnya.
Rigel menceritakan cerita yang begitu hangat selalu kepada Chandra. Cerita yang selalu ia dengarkan ketika bersama. Namun meski nada suaranya ceria, ceritanya begitu kelam yaitu tentang bagaimana hari-harinya yang tak seindah masa lalu.
Rigel menceritakan kesehariannya, Dimana ia selalu pergi ke perusahaan yang sudah bangkrut itu dan duduk di depan pintu depannya, hanya diam seolah menunggu sesuatu terjadi, dari pagi hingga malam. Ia membohongi dirinya seolah ia masih bekerja dan masih memiliki kehidupan.
Dalam kepalanya hanya di penuhi bagaimana ia merasa hidup di sana, merasa ada di sana, di lihat, eksis dan nyata. Namun sekarang keadaan telah berubah, ia bukan lagi siapa-siapa, bahkan ia bukan lagi sang penyair yang di kenali banyak orang bak matahari telah tenggelam dan entah kapan ia akan terbit kembali. Ketika malam hari, tidak ada satu orang pun mengingat matahari ada di atas langit. Hanya bulan yang hadir satu-satunya, dan Rigel bukanlah bulan, karena ia baru saja lahir di malam hari. Mungkin ia hanya terlahir sebagai bintang-bintang kecil.
Rigel berhenti bercerita dengan penutup bahwa ia sekarang merasakan malam hari yang hampa dan dingin. Ia masih merindukan kehangatan dan mungkin saja ia merasa sedikit alergi hidup di malam seperti ini, karena sukmanya belum bisa beradaptasi dengan keadaan. Chandra menepuk pundak Rigel dan mengatakan “Inilah kenyataan, penuh dengan kontradiksi dan tak begitu kita sukai. Kamu tahu?” Chandra melihat ke atas dengan jarinya masuk kesela-selanya
“Kita tidak salah dalam mencintai kehangatan yang terasa abadi, namun kita juga harus sadar akan kenyataan di depan kita, bahwa semua yang ada di dunia ini memiliki akhir. Aku pernah di posisimu. Terlena malam hari yang kamu sebutkan dan hidup dengan penuh kegelapan sehingga aku hampir tidak bisa merasakan apa itu siang hari. Dan saat aku merasakan kehangatan siang hari, aku sadar akan apa yang kulakukan di masa lalu. Aku merenungkan hidupku, aku kurang peduli terhadap istri dan anakku dan hanya bekerja dan bekerja sampai-sampai aku sangat familiar dengan interior kantor, karena aku sering mengambil lembur dan semua itu hanya demi secangkir kopi dan roti tawar. Aku selalu merasa bahwa aku selalu benar, aku tidak pernah salah, ya aku yakin sekali. Tapi pada akhirnya aku menyadari bahwa dunia begitu absurd untukku pahami dan aku tidak tahu bahwa aku benar atau tidak” Chandra berdiri dari kursi. “Nasib kita sepertinya berbalik. Tapi aku yakin, dan seperti yang aku katakan barusan. Semua hal yang ada di dunia ini memiliki akhir, dan kamu hanya perlu mencari jawaban dari hal itu.” Chandra tersenyum sambil menatap Rigel tajam dan Rigel senyum kembali padanya. “Aku pasti akan menemukannya, terima kasih, atas waktunya” Chandra pun berjalan pergi tanpa kata-kata terakhir dan ia menghilang di pandangan Rigel.
Pada akhirnya Rigel hidup dengan keterasingan di malam hari yang gelap. Sedangkan Chandra hidup di siang hari yang penuh akan kehangatan.
Demikian cerita tentang Sang penyair yang sekarang ia bukan lagi penyair namun ia hanyalah orang biasa atau bahkan sekarang hanyalah orang asing saja.










